Kenapa Lulusan SMK Masih Banyak yang Menganggur?

- 2:45 AM
Kenapa Lulusan SMK Masih Banyak yang Menganggur?

Kenapa Lulusan SMK Masih Banyak yang Menganggur? : Jumlah lulusan SMK yang menganggur atau tidak bekerja masih paling tinggi di antara lulusan lainnya termasuk lulusan SMA. Menurut data BPS, angkanya berada di 11,24%.

Meski jumlah pengangguran tercatat menurun pada tahun ini menjadi 5,34%. Namun persoalan lulusan SMK yang belum bekerja ini masih menjadi masalah. Padahal seperti yang kita ketahui, SMK adalah sekolah yang secara eksplisit mendidik siswa-siswinya agar dapat langsung bersaing di dunia kerja.

Lalu, apa penyebabnya?

Mendikbub: Lulusan Masih Ada yang Belum Tersentuh Upaya Revitalisasi

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, masih banyaknya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan SMK yang dirilis BPS akhir-akhir ini, dikarenakan masih ada SMK yang belum tersentuh upaya revitalisasi SMK oleh pemerintah.

Effendy berdalih bahwa revitalisasi SMK baru mulai dilaksanakan pada awal tahun 2017. Dengan demikian hasilnya belum terlihat maksimal. Revitalisasi SMK yang dimaksud tertuang dalam Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM).

"Jadi lulusan SMK yang sekarang belum dapat tersentuh revitalisasi. Saya yakin lulusan SMK 3-4 tahun ke depan di posisi yang tepat dan akan meningkat kualitasnya," kata Effendy.

Selain itu, Effendy juga mengatakan bahwa data TPT tahun ini berada pada arah positif. Ia menyebut ada kenaikan, yang walaupun tidak terlalu signifikan. Tahun ini TPT yang berasal dari SMK ada di angka 11,24%, sementara tahun lalu masih lebih tinggi, yaitu di angka 11, 41%.

"Sebenarnya pengangguran di SMK turun, meskipun porsinya masih tinggi," kata Effendy.

Guru Produktif Masih Minim

Salah satu alasan yang harus juga dibenahi oleh pemerintah agar lulusan SMK tidak banyak yang menganggur adalah menambah guru produktif.

Di SMK sendiri terdapat tiga jenis guru, yaitu guru adaptif yang mengajar mata pelajaran murni seperti biologi, kimia dan lain-lain; guru normatif yang mengajar pelajaran seperti agama, PKN, bahasa, dan sebagainya; serta guru produktif yang mengajar keahlian khusus sesuai bidang jurusan di SMK.

"Waktu saya masuk jadi menteri, jumlah guru produktif hanya berkisar di angka 37%" ungkap Effendy.

Di sisi lain, lanjut Effendy, guru produktif yang ada saat ini masih banyak yang tidak sesuai keterampilannya.

"Misalnya sekolah kelautan itu sebenarnya cocoknya guru pelaut. Pelaut itu biasanya 45 tahun tidak mau melaut lagi, nah dia bisa jadi guru," katanya.
Author : Noval Irmawan Image : malangtoday.net

Submit Public Comment Here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search