Komitmen Facebook Berantas Hoax Berlanjut ke Brasil

- 6:45 AM
Komitmen Facebook Berantas Hoax Berlanjut ke Brasil

Setelah banyak tudingan miring bahwa Facebook sebagai sarang hoax, mereka kemudian berkomitmen keras untuk menyatakan perang terhadap konten hoax dan termasuk akun palsunya. Bersih-bersih ini masih terus dilakukan Facebook sampai sekarang, terbukti kali ini mereka merazia konten-konten hoax yang beredar di Brasil.

Seperti diberitakan DetikInet,  belakangan Facebook menutup sebanyak 68 laman dan 43 akun di Brasil. Akun-akun tersebut ditengarai berafiliasi dengan sebuah grup marketing yang menyebarkan span dan misrepresentasi. Puluhan akun dan laman itu ditutup karena melanggar kebijakan Facebook.

Menurut pernyataan resmi Facebook, akun dan laman yang dihapus itu dibuat dan dioperasikan oleh Raposo Fernandes Associados (RFA), sebuah grup marketing yang berbasis di Brasil. Perusahaan tersebut membuat sebuah sistem yang menggunakan akun palsu untuk menciptakan konten kontroversial.

Lalu konten tersebut akan digeber dengan disebarkan ke seluruh jejaring lamannya. Tujuannya untuk menarik orang-orang dari Facebook untuk masuk ke sebuah situs pihak ketiga.

Meski sekilas aksi RFA ini terlihat baik-baik saja dan normal, mereka sebenarnya sedang 'bertani' iklan yang menghasilkan uang untuk setiap klik oleh pengunjungnya.

Berbeda dengan di Indonesia, dimana konten hoax biasa terkait dengan dunia politik. Namun meski Brasil dalam waktu dekat akan mengadakan pemilunya, menurut Facebook konten-konten hoax dari RFA ini tak terkait dengan dunia politik, melainkan hanya mencari uang dengan menggenjot lalu lintas pengunjung ke situs mereka.

Facebook boleh saja bisa merazia konten hoax di jejaringnya. Namun tampaknya mereka belum bisa mengatasi masalah WhatsApp di negara tersebut.

Masalah yang dimaksud adalah di Brasil, WhatsApp menjadi 'rumah' bagi kampanye disinformasi besar-besaran. Padahal, sekitar dua pertiga dari 200 juta warga Brasil menggunakan WhatsApp, dan platform itu dinilai sangat efektif -- bahkan dibanding Facebook -- untuk menyebarkan hoax yang menyebabkan kecemasan dan kebingungan.

Dari kejadian ini, seyogyanya sebagai masyarakat sekaligus pengguna platform media sosial, kita dapat dengan bijak menggunakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. Karena hoax dan berita bohong atau kecurangan lainnya akan merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri.

Submit Public Comment Here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search