Garuda Merugi, Kementerian BUMN Minta Kaji Ulang Rute Jakarta-London

- 8:20 AM
Garuda Merugi, Kementerian BUMN Minta Kaji Ulang Rute Jakarta-London

Pada April 2017 lalu, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mulai membuka jalur penerbangan komersial dari Jakarta ke London dan sebaliknya (PP). Namun, jalur tersebut ternyata tidak membuat untuk perusahaan, alias merugi. Berangkat dari itu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta Garuda Indonesia untuk meninjau ulang rute penerbangan Jakarta-London PP.

"Bu Menteri (Menteri BUMN Rini M Soemarno) minta untuk ditinjau (rute penerbangan) ke London," jelas Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo di sela-sela acara ulang tahun PT Taspen (Persero) di Jakarta, Minggu (22/4/2018).

Gatot menjelaskan Kementerian BUMN beranggapan, ketimbang merugi di rute luar negeri, akan lebih baik apabila Garuda mengoptimalkan rute domestik.

"Domestik itu pertumbuhan ekonominya luar biasa. Daerah timur itu 7-8 persen dibandingkan dengan average (rata-rata) pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Gatot.

Gatot mengungkapkan, Garuda Indonesia bisa menukar 1 atau 2 rute internasional yang merugi dengan menambah rute di dalam negeri. Dengan demikian, dampak ekonominya akan lebih terasa di dalam negeri.

Selain itu, Kementerian BUMN juga meminta Garuda untuk mengefisienkan rute-rute lainnya. Di sisi lain, sebenarnya Garuda juga berencana menambah rute penerbangan internasional baru.

"Pak Pahala (Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury) merencanakan untuk (membuka rute) ke Turki, Istanbul," terang Gatot.

Peninjauan ulang rute penerbangan Garuda Jakarta-London salah satunya disebabkan pula keputusan maskapai asal Australia, Qantas untuk membuka rute penerbangan langsung London-Perth-Sydney. Rencana tersebut tak pelak memengaruhi kesempatan Garuda untuk meraup penumpang.

Pada tahun lalu, jumlah penumpang Garuda rute Jakarta-London mencapai 35.000 orang. Sementara itu, jumlah penumpang rute London-Australia mencapai 350.000.

"Kita cuma 10 persen. Rata-rata yang ke Australia 350.000 orang, yang naik Garuda hanya 35.000. Kita ingin jadi stop over di sini, dapat slot premium, tapi kita tidak dapat premium," sebut Gatot.

=== PORTALSOHO ===
Penulis: Noval
Editor: Asrinur
Gambar: Tempo

Submit Public Comment Here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search